• Perkuliahan
  • After One Year : Ketika Seragam Itu Akhirnya Kupakai Kembali

    Halo semua,

    Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menceritakan perjalanan hidupku.

    Mungkin ada yang bertanya, kenapa Laa baru menulis lagi?
    Menjadi anak kesehatan sambil bekerja dengan tugas yang luar biasa menyiksa itu benar – benar membuatku hampir tidak punya ruang untuk menulis. Di balik itu, tentu saja banyak hal yang terjadi—banyak lelah, banyak proses, dan banyak cerita yang akhirnya siap untuk dibagikan.

    Kali ini aku kembali dengan hati yang lebih berani, membawa pengalaman yang terlalu berharga jika hanya dipendam sendiri dan dari situlah, aku memutuskan untuk kembali menulis.

    Waktu sempat membuatku berhenti, sebelum akhirnya aku memilih untuk melangkah lagi.

    Satu tahun yang kelihatannya singkat, tapi ini cukup lama untuk membuat dunia kesehatan terasa asing lagi.

    Hari itu aku berdiri, menatap seragam profesi yang akhirnya kupakai kembali. Tanganku sedikit gemetar. Bukan karena takut tidak bisa, tapi karena aku sadar: hari ini adalah hari dimana aku memulai lagi dari awal.

    Malam yang sunyi seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat dengan tenang.
    Tapi bagiku, malam itu justru menjadi malam yang panjang—malam untuk memulai semuanya kembali.

    Otak, mata, dan tangan mulai sibuk.
    Satu per satu pelajaran dan hafalan yang sudah hampir satu tahun tidak kusentuh kembali kubuka, kupaksa kuingat, dan kupahami ulang.

    Di meja itu, di bawah lampu yang terus menyala,
    terhampar beberapa kisi – kisi tindakan yang kemungkinan besar akan muncul keesokan harinya saat Ujian OSCE.

    1. Pemeriksaan fisik
    2. Pemasangan kateter
    3. Pnc/Anc
    4. Halusinasi (menghardik)
    5. Nebulizer
    6. Massage Abdomen
    7. Perawatan Luka
    8. Senam Kagel
    9. Pemasangan OGT
    10. Pemasangan Infus
    11. Injeksi
    12. Perawatan Stoma
    13. RJP
    14. Fisioterapi Dada

    Melihat kisi-kisinya saja, sepertinya kalian sudah bisa membayangkan seperti apa penuhnya kepala malam itu—wkwk.

    Ketika hari itu akhirnya tiba…

    Kami semua berkumpul di lorong laboratorium, menunggu informasi lanjutan. Suasananya hening tapi penuh tekanan. Bahkan suara lonceng kampus yang biasanya terdengar biasa saja, hari itu terasa sangat menyeramkan.

    Aturannya sederhana, tapi bikin deg-degan:

    • 5 menit untuk membaca soal

    • 15 menit untuk melakukan tindakan

    Lonceng pun mulai berbunyi.

    🔔 Lonceng pertama dibunyikan — waktunya membaca soal.
    Semua mata fokus, otak berpacu, berusaha memahami kasus secepat mungkin.

    🔔 Lonceng kedua dibunyikan — kami harus menutup soal dan mulai mempersiapkan tindakan di dalam kepala.
    Di titik ini, jantung rasanya ikut lomba lari. Semua hafalan ditarik paksa dari sudut – sudut ingatan.

    🔔 Lonceng ketiga dibunyikan — waktunya masuk ke ruangan tindakan.
    Kami menjalankan prosedur sampai waktu habis, lalu berpindah ke pos berikutnya.
    Begitu seterusnya. Berulang. Tanpa ampun.

    Di lorong itu aku sadar, ini bukan sekadar ujian hafalan. Ini ujian ketenangan, fokus, dan kepercayaan diri, dengan waktu yang terus berjalan. Rasanya deg – degan luar biasa tangan dingin, napas pendek, dan kepala penuh.

    Dan sebagai penutup, aku harus bertemu dengan dosen killer di pos terakhir.

    Karena terlalu bersemangat dan terlalu percaya diri, aku membaca soal tertulis
    “Pasien Tn. P, usia 49 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada dada kiri yang menjalar ke lengan. Lakukan pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular yang tepat dan tentukan diagnosis keperawatan sesuai dengan data yang ditemukan.”

    Tapi entah kenapa, begitu masuk ruangan… ngeblank.

    Alih – alih melakukan pemeriksaan fisik, yang di lakukan justru malah memasang EKG.
    Pasiennya? Adik tingkat sendiri. Kami saling kenal.
    Tapi sayangnya ini ujian—dan tentu saja, dia tidak berani memberi isyarat apa pun.

    Semua alat EKG sudah terpasang rapi.
    Lalu dosen bertanya,

    Dosen: “Kamu ngapain?”
    Aku: menjelaskan panjang lebar — “Di soal kata kuncinya pasien mengalami nyeri dada kiri yang menjalar ke lengan Bu…”
    Dosen: “Terus, kamu apain pasiennya?”
    Aku: “Oh pemeriksaan fisik ya, Bu.”
    Dosen: “Lah, terus kenapa kamu pasang EKG?”
    Aku: dengan senyum cengengesan “Sebagai pemeriksaan penunjang, Bu… hehe.”

    Dosen menatap sebentar, lalu berkata,
    “Copot EKG-nya. Rapihin.”

    Dan di situ aku cuma bisa mikir:
    oke… ini salah satu momen yang pengen cepet – cepet dilupain.

    Aku bahkan nggak tahu beliau marah atau tidak—karena memang nadanya selalu seperti itu.
    Tapi jujur saja, bertemu beliau di ujian terakhir adalah skenario yang paling ingin kuhindari wkwk.

    Alhamdulillah, hari itu berjalan lancar dan berhasil dilewati.

    Seperti manusia pada umumnya, ada lupa dan ada keliru. Tapi rasa lega itu nyata—akhirnya satu tahapan berhasil kulalui.

    Keesokannya..

    18/09/2025
    Hari pertama dinas di RSUD Kota Bekasi, dimulai dengan stase KDP (Keperawatan Dasar Pertama).

    KDP menjadi fase “tamparan halus”.
    Rutinitas hari itu hampir sama seperti biasanya: bangun pagi, berangkat ke kantor, izin kepada manajer dan Human Capital (HRD), lalu bersiap memulai dinas pertama. Langkah kaki terasa kaku, otak masih berusaha menyesuaikan ritme, dan hati berkali – kali bertanya, “Aku sanggup nggak ya?”

    Menunda selama setahun ternyata cukup untuk membuatku merasa seperti mahasiswa baru lagi. Masuk ruangan dengan rasa canggung, mengingat kembali prosedur dasar, dan belajar bersikap profesional seolah aku belum pernah berada di sini sebelumnya.

    Vibes KDP benar – benar campur aduk:

    • Deg-degan karena takut salah

    • Capek karena tubuh belum terbiasa

    • Tapi ada rasa bangga kecil setiap selesai dinas

    Di sinilah aku mulai sadar, empat bulan ke depan tidak akan ramah. Semangat saja tidak lagi cukup. Tubuh, waktu, dan mental akan diuji pelan-pelan, tapi pasti.

    Dan benar saja.
    KDP belum selesai, aku sudah harus bersiap menyambut fase berikutnya : KMB (Keperawatan Medikal Bedah) selama tujuh minggu. Tanpa jeda dan tanpa aba – aba.

    Dari sinilah, cerita perjalanan kuliah yang melelahkan itu dimulai.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    5 mins